Kalkulator Simulasi Dampak BI Rate
Simulasikan dampak keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terhadap cicilan KPR, Deposito, dan Reksadana Pasar Uang Anda.
Bagaimana BI Rate Mempengaruhi Portofolio Finansial Anda?
Setiap kali Bank Indonesia mengumumkan keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) mengenai naik-turunnya BI Rate, getarannya akan langsung terasa di berbagai produk keuangan retail. Namun dampaknya tidak selalu terjadi secara instan atau berskala sama. Berikut adalah penjelasan mekanisme dari ketiga produk utama di atas:
1. KPR Floating & Kredit Konsumsi (Dampak Negatif Saat Rate Naik)
Untuk KPR konvensional yang sudah memasuki masa bunga mengambang (floating), kenaikan BI Rate hampir selalu diikuti kenaikan suku bunga kredit. Sebaliknya, ketika BI Rate turun, bank seringkali lambat menurunkan bunga kredit karena faktor likuiditas dan biaya dana. Ini yang disebut dengan asimetri pass-through rate.
2. Deposito Berjangka (Dampak Positif Saat Rate Naik)
Deposito adalah produk perbankan pertama yang langsung merespon naik turunnya BI Rate. Bank akan bersaing menaikkan bunga deposito (cost of fund) saat BI rate naik untuk mempertahankan dana pihak ketiga (DPK). Pajak final bunga deposito di Indonesia adalah sebesar 20%, yang dipotong langsung oleh pihak bank atas keuntungan bunga yang Anda peroleh.
3. Reksadana Pasar Uang (Alternatif Yield Fleksibel)
Reksadana Pasar Uang (RDPU) mengalokasikan 100% dananya pada instrumen pasar uang seperti obligasi jangka pendek (kurang dari setahun) dan deposito berjangka. Berbeda dengan deposito langsung, RDPU tidak dipotong pajak 20% karena bukan objek pajak. Ketika BI Rate naik, yield RDPU akan merayap naik seiring Manajer Investasi memperbarui penempatan dana mereka ke deposito baru yang berbunga lebih tinggi.
Konsultasikan portofolio pinjaman, proteksi, atau instrumen investasi pasar uang Anda langsung bersama perencana keuangan profesional.